Trekking Ke Gunung Agung – Menggapai 3 Puncak Gunung Tertinggi di Bali

Berawal dari suatu perbincangan di dalam kelas untuk melakukan suatu pendakian ke salah satu Gunung untuk mengisi waktu liburan semester, kami akhirnya sepakat untuk melakukan pendakian ke Gunung Agung yang merupakan Gunung Berapi yang masih aktif dan tertinggi di Bali.

Menuju Puncak Pertama Pada suatu hari yang sudah ditetapkan, kami akhirnya berangkat dari kota Amlapura di Karangasem menuju ke Desa Besakih, tepatnya ke rumah salah satu peserta trekking untuk mempersiapkan peralatan untuk melakukan pendakian. Setelah briefing sebentar dan peralatan yang akan dibawa untuk trekking sudah lengkap, kamipun mulai melangkahkan kaki menuju ke arah Pura Besakih yang merupakan start point yang kami pilih.

Sebenarnya ada satu lagi start point yang bisa dilalui untuk mencapai puncak Gunung Agung, yaitu melalui desa Sebudi, tepatnya arah ke Pura Pasar Agung lebih kurang 15 km di sebelah timur Pura Besakih. Tetapi dengan pertimbangan bahwa penulis sudah pernah melakukan pendakian ketika masih duduk di bangku SMP, kami akhirnya memilih untuk melalui jalan dengan start point Pura Besakih.

Di Pura BesakihTepat pukul 17:00 kami mulai mengayun langkah dari Pura Besakih untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Agung. Setelah berjalan kurang lebih satu jam, kami sampai di Pura Pengubengan yaitu sebuah pura yang terletak di tengah hutan kurang lebih 3 km dari pura Besakih. Kami istirahat sejenak sambil melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan sepanjang perjalanan.

Saat meninggalkan Pura Pengubengan, jalanan sudah mulai agak gelap, kamipun mulai menyiapkan lampu penerangan yang memang sudah dibawa sebagi perlengkapan pendakian. Memasuki hutan belantara dengan jalanan setapak yang menanjak dan gelap malam yang mulai menyelimuti setiap langkah kami, tiba-tiba kami dikejutkan oleh padamnya salah satu lampu penerangan yang kami bawa. Dengan penerangan yang sangat terbatas, hanya tersisa 2 buah lampu penerangan, kami memutuskan untuk beristirahat sejenik sambil memanjatkan doa untuk memohon keselamatan.

Istirahat Menuju Puncak KeduaUntunglah saat itu bulan purnama dan cuaca sangat cerah sehingga perjalanan bisa kami lanjutkan dengan bantuan penerangan alami yaitu dari cahaya bulan yang terasa sangat terang benderang malam itu. Kami terus mengayun langkah untuk menuju tempat yang akan dijadikan sebagai tempat untuk membangun tenda, yaitu sebuah tempat yang disebut sebagai Kori Agung. Namun sebelum sampai di Kori Agung ini, ada beberapa tempat yang menjadi catatan saat kami lalui, yaitu:

1. Cemara Kembar. Cemara Kembar ini dikenal oleh pendaki lokal sebagai perbatasan antara jalan yang agak landai dengan jalan yang mulai menanjak dan di sebelah kiri dan kanan terdapat tebing yang curam. Tempat yang disebut sebagai Cemara Kembar ini ditandai dengan adanya 2 buah pohon Cemara yang berdiri tegak di sebalah kiri dan kanan jalan. Disebut sebagai Cemara Kembar, karena memang bentuk dan ukuran serta posisi pohon cemara ini sangat identik satu dengan yang lain sehingga terkesan sebagai pohon cemara yang kembar. Setelah melewati cemara kembar ini, jalanan mulai terasa menanjak/mendaki dan di sebelah kiri dan kanan mulai tampak tebing yang curam sehingga jika tidak berhati-hati bisa sangat berbahaya.

2. Bias Membah. Tempat yang disebut sebagai Bias Membah ini terletak kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan dari Cemara Kembar. Disebut sebagai Bias Membah karena tempat atau jalan ini terdiri atas pasir (bias – bahasa Bali) yang terus bergerak ke bawah (membah – bahasa Bali). Jalan ini cukup licin dan sempit. Di samping kiri adalah pasir yang terus bergerak ke bawah (bias membah) dan kalau kita perhatikan dan melihat ke arah bawah, tampak dengan jelas pasir ini terus bergerak dan kemiringannya cukup tajam. Jalan ini walaupun tidak terlalu berbahaya tetapi jika tidak berhati-hati bisa tergelincir ke bawah mengikuti arus pasir yang bergerak.

3. Titi Besi. Titi Besi adalah sebuah tempat atau jalan yang mesti kita lalui untuk mencapai puncak Gunung Agung jika berangkat dari start point Pura Besakih. Titi Besi ini terletak persis di ujung Bias Membah, sehingga ketika kita melewati Bias Membah, maka di ujungnya akan ketemu jalan yang disebut Titi Besi. Titi adalah bahasa Bali, artinya Jembatan Kecil. Jadi Titi Besi artinya Jembatan Besi. Tetapi kalau kita perhatikan sesungguhnya tidak ada jembatan besi yang kita lalui. Yang disebut Titi Besi oleh pendaki lokal adalah sebuah jalan di ujung Bias Membah untuk menuju naik ke Kori Agung (tempat memasang tenda). Tempat ini lebih tepat disebut sebagai tebing kecil berukuran setapak dengan ketinggian kurang lebih 2 – 2,5 meter. Jadi, untuk melalui tempat ini, kita harus memanjat satu persatu saling bantu satu sama lain dengan mengunakan tali atau tongkat.

4. Kori Agung. Setelah melewati Titi Besi dan mendaki kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan, kita akan sampai di tempat dimana kita bisa memasang tenda yang disebut sebagai Kori Agung. Tempat yang disebut sebagai Kori Agung ini terbentuk dari sebuah tebing batu dimana di bawahnya terdapat tempat seperti goa kecil yang biasa digunakan sebagai tempat untuk istirahat atau tidur. Di depan tebing dengan goa kecil ini terdapat sebuah tempat yang relatif datar untuk membuat api unggun. Malam itu, kami sampai di tempat yang disebut sebagai Kori Agung ini tepat jam 24:00 Wita, 1 jam lebih lambat dari waktu yang kami perkirakan karena biasanya jika perjalanan lancar, dari start point di Pura Besakih sampai di Kori Agung ini bisa ditempuh dalam 6 jam perjalanan mendaki.

Indahmya Puncak Pertama Malam itu kami membangun tenda dan menyalakan api unggun sambil bersenda gurau. Kebanggan terasa menghinggapi perasaan kami dimana setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami sampai di tempat ini. Tanpa terasa kami tidur terlelap di ketinggian gunung yang sangat disucikan ini ditemani suara pohon dan udara yang sangat dingin. Dan, jam 5 pagi hari kami dibangunkan oleh alarm yang sengaja dibawa untuk mengingatkan waktu untuk berangkat menuju ke puncak yang masih kurang lebih 1 – 1,5 jam perjalanan.

Jalan Berbatu Menuju Puncak PertamaTarget berikutnya adalah melihat matahari terbit dari puncak pertama gunung tertinggi di Bali ini. Perjalanan dari Kori Agung ke Puncak Pertama memerlukan waktu kurang lebih 1 jam dengan melalui jalanan menanjak terjal dan berbatu. Setelah melewati jalan berbatu dengan berjalan merayap menuju puncak pertama, pukul 06:15 akhirnya kami sampai di puncak pertama. Cuaca cukup bagus dan matahari sudah menyembur muncul di ufuk timur dengan cahayanya yang mulai menghangatkan tubuh. Kami beristirahat untuk menghangatkan tubuh yang semalaman berselimut dingin.

Lingga @Gunung Agung Lingga & Kardadi @Gunung AgungBerikutnya menuju Puncak Kedua. Jalan menuju Puncak Kedua relatif agak datar walaupun di kiri dan kanan dihiasi oleh tebing yang curam. Pemandangan dari puncak kedua sungguh sangat mnenakjubkan. Dari puncak kedua ini kita bisa lebih leluasa untuk melihat pemandangan wilayah Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Kelungkung.

Widya di bebatuan Menghangatkan Tubuh

Traget kami terakhir adalah mencapai puncak tertinggi Gunung Agung yaitu mencapai Puncak Ketiga. Jalan menuju puncak ketiga ini sedikit lebih sulit dibandingkan saat menuju puncak kedua tadi. Puncak ketiga ini dihiasi oleh pemandangan kawah Gunung Agung yang cukup luas. Di kedalaman kawah ini mengeluarkan asap belerang yang baunya terasa sampai di tempat kami berdiri.

Puncak Ketiga Kegembiraan di Puncak KetigaKegembiraan terpancar cerah di wajah teman-teman setelah berhasil menggapai puncak ketiga gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali, yaitu dengan ketinggian 3,142 MDPL. Mengabadikan kegembiraan ini dengan mengambil beberapa photo bersama tidak bisa terlewatkan. Wajah-wajah penuh kegembiraan terus menghiasi raut muka teman-teman yang sebelumnya sempat down karena kecapean.

Bayangan Puncak Pertama Istirahat Menuju Puncak KeduaSetelah puas menikmati pemandangan dari Puncak ketiga Gunung Agung, kamipun bergegas turun. Perjalanan turun dari puncak ketiga ini tidaklah sesulit saat mendaki tadi. Beberapa orang masih bisa berlari untuk bisa cepat-cepat kembali ke rumah. Sekitar jam 16:00 kamipun akhirnya sampai kembali di Start Point Pura Besakih. Mengisi perut yang mulai keroncongan adalah agenda pertama kami setelah turun gunung.

Mengisi Perut Istirahat Menunggu TemanBuat teman-teman, yang sekarang entah ada di mana, perjalanan ini sungguh luar biasa. Saya sengaja menuliskan kembali cerita perjalanan kita setelah sekian tahun yang lalu kita lakukan. It was a long time ago. Secara pribadi, rasanya saya ingin kembali melakukan pendakian bersama-sama, tetapi mungkinkah itu? Salam kebersamaan saya buat: Gusti Parta, Ketut Kardadi, Ketut Suardana, Ketut Widia, Mastika, Gusti Ngurah, dll. Salam sejahtera selalu bersama keluarga.

Iklan
Dipublikasi di adventure tour, mendaki gunung, trekking | Tag , , | 1 Komentar

Trekking Danau Buyan dan Danau Tamblingan – Perjalanan Tak Berujung

Pagi hari yang cerah di hari Minggu tanggal 14 Desember 2014, kami berangkat dari Kuta pada pukul 09:00 Wita menuju ke arah Bedugul untuk melakukan trekking mengelilingi Danau Buyan dan Tamblingan. Perjalanan dari Kuta ke Bedugul memerlukan waktu kurang lebih 2 jam, namun karena sebagian besar peserta belum sarapan pagi, kami memutuskan untuk singgah di sebuah warung makan di daerah Luwus untuk mengisi perut yang sudah mulai memelas karena kosong.

trekking_buyan_30 trekking_buyan_01

Setelah mengisi “bensin” jalan mulai terasa terang, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke arah Danau Buyan tepatnya menuju Desa Dasong. Setelah memasuki desa Dasong dan sampai di pinggir Danau Buyan, kami memutuskan untuk memarkir mobil di tempat parkir Bumi Perkemahan Buyan I, selanjutnya kami berjalan kaki menuju Bumi Perkemahan Buyan II. Perjalanan menuju Bumi Perkemahan Buyan II bisa ditempuh kurang lebih 1 jam dari Bumi Perkemahan Buyan I dengan melewati hutan yang dipenuhi pepohonan yang beraneka ragam dimana hutan ini adalah hutan lindung.

trekking_buyan_02 trekking_buyan_03

Memasuki hutan Lindung ini udara terasa begitu segar, pepohonan yang tinggi dan rindang terasa sekali memberikan kesejukan saat melangkahkan kaki menyusuri jalanan yang meskipun cukup lebar karena bisa dilalui oleh motor, namun banyak lubang digenang air sehingga jalanan menjadi berlumpur dan licin.

trekking_buyan_06 trekking_buyan_08

Mengabadikan perjalanan di tengah hutan lindung dengan mengambil beberapa picture diantara pepohonan yang berdiri kokoh menjadi suatu keharusan jika tidak ingin kehilangan moment yang begitu berharga karena bagi kita yang hidup diperkotaan tidak terlalu sering bisa melewati tempat-tempat seperti ini. Memperhatikan satu persatu pepohonan yang ada di hutan lindung ini yang beberapa diantaranya dihiasai dengan tulisan yang berisi nama-nama pohon sekaligus menjadikan kita belajar untuk mengenal berbagai jenis pepohonan yang telah memberikan kesejukan untuk alam kita. Dan tentunya, pepohonan ini juga sebagai penyangga air ketika musim hujan tiba, dan bisa dibayangkan jika tidak ada pepohonan, betapa panasnya bumi ini.

trekking_buyan_09 trekking_buyan_12

Setelah berjalan menyusuri jalan di bawah pepohonan hutan lindung, kami akhirnya sampai di Buni Perkemahan Buyan II. Pemandangan dari tempat ini sangat indah dan kamipun tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan keindahan alam ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa.

trekking_buyan_13 trekking_buyan_14

 trekking_buyan_15 trekking_buyan_16 

Selanjutnya kami mulai memasuki hutan menuju ke arah Danau Tamblingan dengan melalui jalan setapak. Jalanan kecil dan sangat licin cukup menyulitkan kami untuk melangkah, ditambah lagi terlalu banyaknya ada persimpangan di sepanjang jalan yang akhirnya membuat kami kebingungan menentukan arah untuk mencapai tujuan.

 trekking_buyan_32 trekking_buyan_28

Tanjakan dan turunan yang cukup terjal membuat kami harus mulai saling bantu antara satu dengan yang lainnya. Jalanan yang menanjak mulai membebani langkah kami sehingga perjalanan menjadi sedikit melambat, namun semangat untuk menikmati kesejukan dan keindahan pegunungan bukit Dasong ini tidak pernah memudar.

Ditengah perjalana n  yang cukup menanjak dan jalan ya ng sempit, kami dikejutkan oleh adanya 2 buah mobil jeep yang terperosok di tengah jalan yang curam dan licin. Mobil yang terperosok ini cukup membuat kami kesulitan karena jalan ditutup oleh badan mobil sehingga kami harus mencari jalan memutar dengan melewati beberapa tumbuhan berduri. Pertanyaan pun kemudian muncul di benak kami, “ngapain mobil jeep ini ada di tengah hutan dan terperosok ke badan jalan yang curam?”

trekking_buyan_20 trekking_buyan_25

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalanan setapak yang menanjak dan berbatu. Jalanan ini cukup membuat kami mengeluarkan keringat dan memacu adrenalin dan mengharuskan kami menggunakan peralatan seadanya seperti ranting pohon yang kering untuk membantu teman-teman lainnya agar bisa melewati jalan ini.

Ketika kami sampai disebuah pertigaan yang tidak begitu jelas, kami mengambil arah ke kiri. Dan disinilah rupanya awal mula terjadinya PERJALANAN TAK BERUJUNG ini, karena kami akhirnya benar-benar tersesat. Bantuan mbah Google tidak memberikan jalan keluar yang memuaskan karena kami sudah tersesat cukup jauh dari jalan yang semestinya kami lalui.

trekking_buyan_29 trekking_buyan_19

Disaat kebingungan menentukan arah jalan untuk menuju ke arah Danau Tamblingan, hujan mulai turun dan menembus ranting-ranting dan dedaunan sampai membasahi tubuh. Kamipun masih terus melanjutkan perjalanan mencoba untuk memecahkan kebingunan mencari arah yang benar meskipun air hujan mulai mengaliri jalan sehingga jalanan menjadi tambah licin.

trekking_buyan_08 trekking_buyan_31

Kami terus menyusuri jalan dan berharap bisa semakin dekat ke arah Danau Tamblingan. Dan akhirnya, kami sampai pada sebuah perempatan dengan petunjuk arah, ke kanan adalah menuju Bumi Perkemahan Buyan II dan arah ke kiri menuju Bumi Perkemahan Buyan I, serta yang arah lurus tidak disebutkan secara jelas menuju kemana. Setelah berunding sebentar, kami akhirnya memutuskan untuk melalui jalan yang lurus.

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit menyusuri jalanan yang menurun, kami akhirnya sampai pada satu tempat yang sangat tidak asing. Dan tempat itu adalah jalan masuk saat kami mulai perjalanan dari Bumi Perkemahan Buyan II. Artinya, tanpa kami sadari, kami hanya berputar di tengah hutan lindung Bukit Dasong dan kembali lagi ke tempat semula saat kami berangkat. Sebuah perjalanan menyusuri hutan Lindung Bukit Dasong di pinggir Danau Buyan, ibarat sebuah lingkaran, PERJALANAN TAK BERUJUNG.

 trekking_buyan_22 trekking_buyan_23

Walaupun kami gagal mencapai tempat tujuan yaitu menemukan Danau Tamblingan, tapi perjalanan ini sungguh sangat luar biasa memberikan kami pelajaran tentang alam yang sesuangguhnya. Pemandangan yang indah, udara yang sejuk, hijau dedaunan dan pepohonan yang rindang  memberikan kami kenyamanan yang luar biasa. Hasilnya mungkin tidak sesuai yang diharapkan, tetapi proses yang kami lewati telah membuat kami semua merasa sangat puas berada di alam terbuka yang penuh keindahan.

Dipublikasi di danau buyan, danau tamblingan bedugul, trekking | Tag , , | 3 Komentar

Pariwisata Bali Ga Pernah Bikin Bosan, Benarkah?

“Pariwisata Bali ga pernah bikin bosan”, judul artikel ini dikutip dari pertanyaan seorang wisatawan dalam negeri (domestik) beberapa tahun yang lalu. Saat itu ketika sedang duduk di lobby sebuah hotel di daerah Kuta untuk menunggu tamu yang akan diantar tour, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang wisatawan domestik yang kebetulan sedang mengadakan acara business gathering di hotel tersebut. Setelah saling berkenalan, wisatawan tersebut bertanya, “Pak, pariwisata Bali ga pernah bikin bosan ya?”. Mendengar pertanyaan tersebut saya sedikit bingung, bagaimana saya mesti menjawabnya? Dalam suasana kebingungan untuk menjawab secara tepat pertanyaan tersebut, saya tanya balik kepada wisatawan tersebut, “Bapak sudah berapa kali datang di Bali?”, tanya saya. “Ini kedatangan saya yang kelima kalinya, saya sudah sempat keliling hampir ke seluruh obyek wisata yang ada di Bali, tetapi setiap kali saya datang, saya masih pengin jalan-jalan, sepertinya saya ga pernah merasa bosan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Bali ini”.

  image_blog_02 image_blog_07

Untuk menjawab pertanyaan wisatawan tadi, saya melakukan “penelitian” kecil-kecilan dengan mencoba menganalisa pariwisata Bali secara awam (karena saya bukan seorang ahli atau akademisi pariwisata, saya hanyalah seorang pekerja pariwisata). Saya mencoba untuk menginventarisasi kembali, apa saja sesungguhnya yang menjadi daya tarik pariwisata Bali, kemudian saya mencoba membandingkannya dengan beberapa tempat wisata yang ada di pulau lain di wilayah Indonesia ataupun daerah tujuan wisata luar negeri yang pernah saya kunjungi.

image_blog_03 image_blog_04

Kalau kita mencoba untuk kilas balik tentang pariwisata Bali, sesungguhnya pariwisata Bali tidak mulus 100 persen. Sepengetahuan saya ada beberapa peristiwa yang pernah membuat pariwisata Bali jatuh bangun seperti: Perang Irak Vs Kuwait tahun 1991 sempat membuat kunjungan wisatawan Timur Tengah, Eropa dan Amerika menurun drastis, bahkan sempat membuat tingkat hunian hotel ketika itu jatuh pada titik terendah. Isu penyakit kolera tahun 1995 sempat membuat kunjungan wisatawan ke Bali menurun khususnya wisatawan Jepang. Selanjutnya BOM Bali I tahun 2002. Ini adalah peristiwa yang paling menyakitkan bagi pariwisata Bali. Saat itu kehancuran pariwisata Bali sepertinya sudah di depan mata, namun untungnya pemerintah saat itu cepat tanggap dan berusaha melakukan recovery Bali. Melalui rapat koordinasi 3 kementerian di hotel Putri Bali Nusa Dua, dihasilkan keputusan bahwa untuk merecovery ekonomi Bali yang luluh lantak akibat bom Bali, pemerintah mencanangkan untuk mendatangkan wisatawan domestik sebanyak-banyaknya ke Bali dengan cara mengatur libur nasional sehingga waktu liburan menjadi lebih lama. Mulai saat itulah tonggak awal mulai berdatangannya wisatawan domestik ke Bali, dimana sebelum peristiwa bom Bali I wisatawan domestik masih dianggap sebelah mata oleh pelaku pariwisata Bali. Namun ketika pariwisata Bali sedang terpuruk karena bom Bali I, justru wisatawan domestiklah yang menyelamatkan Bali. Sejak saat itu kedatangan wisatawan domestik ke Bali mulai mengalami peningkatan dan pelaku pariwisata pun yang dulunya mengganggap wisatawan domestik sebelah mata, mulai menggarap wisatawan domestik. Ketika pariwsisata Bali sudah mulai normal kembali, tahun 2005 Bali diguncang oleh bom Bali II. Namun demikian dampaknya tidaklah sedahsyat bom Bali I.

image_blog_08 image_blog_09

Saat ini pariwisata Bali sedang mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Karena pariwsiata sangat sensitif terhadap isu, seperti isu keamanan, maka jika isu positif dapat terus terjaga dengan baik, niscaya pariwisata Bali akan terus bertumbuh. Tetapi apa sesungguhnya yang membuat pariwsiata Bali begitu diminati oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing? Ada beberap hal yang menarik bagi wisatawan untuk mengunjungi Bali berulang-ulang, seperti:

1. Bali memiliki tempat wisata alam yang sangat indah seperti Pantai, Danau dan Gunung. Beberapa pantai di Bali masuk ke dalam 10 besar pantai terindah di Indonesia. Pantai-pantai ini memiliki daya tarik yang luar biasa baik bagi wisatawan domestik maupun manca negara. Hampir sebagian besar wisatawan yang datang ke Bali ingin meilihat pantai dan lebih cenderung memilih tempat menginap yang ada di dekat pantai. Pantai Pandawa, Pantai Dreamland, Pantai Padang-Padang, Pantai Suluban adalah pantai-pantai yang relatif baru yang banyak dikunjungi wisatawan disamping pantai-pantai lain yang lebih dulu sudah populer seperti Pantai Kuta, Pantai Sanur, Pantai Nusa Dua dan lainnya.

image_blog_10 image_blog_09

2. Bali memiliki budaya dan tradisi yang sangat kuat. Budaya Bali yang bernafaskan agama Hindu dengan berbagai upacara keagamaan telah menjadi daya tarik yang luar biasa khususnya bagi wisatawan mancanegara. Mereka berbondong-bondong datang ke berbagai pelosok desa di Bali untuk sekadar meilihat upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh masyarakat Bali. Di Bali, hampir tiada hari tanpa upacara keagamaan.

Pawai Pajegan di Pura Alas Kedaton,Bali ngusaba_dalempuri

3. Bali memiliki kesenian tradisional yang dikagumi dunia. Memang tidak bisa dipungkiri, salah satu daya tarik pariwisata Bali adalah kesenian tradisional Bali. Kesenian tradisional Bali seperti Tari Kecak, Tari Barong, Tari Legong dan lain-lain yang dulunya hanya dipentaskan di tempat-tempat suci pada saat upacara keagamaan, kini dipentaskan di berbagai tempat untuk konsumsi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

 tari_barong_bali tari_kecak_bali

Jadi,,, 3 hal di atas bisa jadi merupakan jawaban atas pertanyaan tamu di atas, kenapa pariwisata Bali tidak pernah membuat bosan pengunjungnya. Bali memiliki segalanya untuk kebutuhan wisatawan karena pada dasarnya orang berwisata adalah untuk mencari ketenangan, melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari. Dan, semua hal itu ada di Bali.

Dipublikasi di pantai di bali, tour bali, wisata bali | Tag , , , , , , | 1 Komentar

Menyambut Mentari Pagi di Puncak Gunung Batur

Pendakian ke Gunung Batur sudah direncanakan kurang lebih 3 minggu sebelumnya, tetapi ketika jadwal sudah ditetapkan pada minggu ke-empat bulan November, diundur lagi karena adanya kesibukan kantor. Akhirnya, hari Minggu 30 November 2014, rencana pendakian pun terlaksana.

Musim hujan yang mulai memasuki sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Bali tentunya, sempat membuat ragu apakah pendakian yang sudah direncanakan dengan sangat matang, jadi atau dibatalkan saja? Bukan tanpa alasan, menjelang keberangkatan, dini hari sekitar pukul 01:00 Wita hujan sangat deras di wilayah Kuta, Denpasar dan sekitarnya. Petir pun tak henti-hentinya menggelegar membuat semangat yang sudah menyala kencang menjadi semakin redup. Dasar pertimbangannya sangat sederhana, kalau di kota atau daerah yang dekat dengan pantai saja hujannya begini deras, bagaimana dengan di daerah pegunungan? Bukankah biasanya hujan lebih mudah turunnya di daerah pegunungan?

Setelah menghubungi satu-persatu temen-temen yang akan ikut mendaki, merekapun rupanya juga sedikit ragu. Namun akhirnya kita sepakat untuk berangkat (walaupun 1 orang batal) sambil melihat situasi dan kondisi di lapangan, jika hujan masih deras dan petir masih ada, mungkin rencana mendaki akan dialihkan ke acara hiking yang lain. Tuhan rupanya mendengar keseriusan kita, hujan akhirnya berhenti dan petirpun tidak terdengar lagi. Jam 03:07 menit kita akhirnya berangkat dari Kuta, walau sedikit telat dari rencana semula namun hal ini tidak menyurutkan langkah kita untuk menyambut mentari pagi di puncak Gunung Batur.

Setelah melewati 2 jam perjalanan, jam 05:05 Wita kami akhirnya sampai di parkir Pura Jati, tempat mulainya pendakian ke Gunung Batur. Memang agak telat, karena untuk melihat matahari terbit, paling lambat kita mesti sampai di tempat parkir Pura Jati jam 03:30 Wita. Setelah mengisi perut dengan mie instan di sebuah warung sekitar tempat parkir, kami akhirnya memulai langkah untuk menapaki jalan menuju puncak Gunung Batur, menyusuri jalan yang awalnya cukup bagus karena jalan ini sepertinya juga bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. Saking asyiknya menyusuri jalan yang belum begitu menantang, kami sempat tersesat lebih kurang 3o menit karena salah mengambil jalan karena memang banyak sekali ada persimpangan di sepanjang jalan.

Semua jalan menuju ke arah puncak sepertinya buntu, akhirnya kami mencoba membuat jalan sendiri dengan mengikuti jejak-jejak langkah kaki – yang mungkin juga bekas langkah kaki orang yang tersesat jalan seperti kami, akhirnya kami menemukan kembali jalan yang semestinya dilalui.

blog_06 blog_01

Karena hari sudah mulai terang, lampu penerangan menjadi tidak penting lagi, dan di depan kita sudah terlihat Gunung Batur yang berdiri dengan gagah. “Salah Jalan dan terlambat untuk melihat matahari terbit dari puncak gunung Batur” menjadi bahasan kami dalam perjalanan. Tetapi, kedua hal tersebut sesungguhnya menjadi hal yang positif juga buat kami, karena dengan keterlambatan dan salah jalan tersebut akhirnya kita bisa melihat pemandangan di depan kita sangat indah dan bisa kita abadikan dalam bentuk photo. Karena kalau kita berangkat lebih awal tentu pemandangan saat kita mulai mendaki tidak bisa kita lihat karena hari masih gelap. Dan benar juga, saat dipertengahan jalan kami ketemu dengan para pendaki yang sudah mulai turun, katanya mereka tidak bisa melihat matahari terbit karena cuaca mendung.

blog_05 blog_04

Melanjutkan perjalanan menuju puncak menyimpan cerita yang sangat seru, jalan berbatu dan tanjakan yang mulai tajam semakin menantang semangat yang terus berkobar. Walau sebagian orang sudah mulai menapakkan kakinya lebih awal di puncak dan bahkan ada yang sudah mulai turun dari puncak, tetap tidak meyurutkan langkah kami untuk melangkahkan kaki menggapai puncak, walau kadang pertanyaan mereka yang sudah mulai turun “koq baru naik?” sedikit mengganggu ketenangan hati.

blog_03 blog_02

Perjalanan menuju puncak menjadi sedikit lebih lambat dari waktu yang diperkirakan yaitu 2 jam karena di pertengahan jalan seringkali kami harus berhenti karena jalan sempit saat berpapasan dengan  orang-orang yang mulai turun. Akhirnya tepat pukul 08:00 Wita kami sampai di Puncak Pertama dimana biasanya orang-orang bisa melihat sunrise di pagi hari. Ditempat ini juga ada sebuah warung sebagai tempat istirahat atau sekedar membeli minuman atau mie instan untuk menggajal perut.

blog_07 blog_10

blog_09 blog_08

Setelah puas menikmati pemandangan Danau Batur dan Gunung Agung di sebelah timur, kami mulai beranjak melanjutkan perjalanan menuju puncak kedua. Diperlukan waktu sekitar 15 menit untuk menuju puncak kedua. Pemandangan di puncak kedua ini tidak kalah indahnya dibandingkan puncak pertama tadi. Dari puncak kedua ini kita bisa melihat secara lebih leluasa pemandangan yang sangat indah dan yang tidak kalah menariknya adalah kita bisa melihat kawah gunung batur persis di bawah kita.

blog_11 blog_14

blog_13 blog_12

Tantangan yang lebih memacu adrenalin adalah jalan menuju ke puncak ketiga. Sepanjang perjalanan menuju puncak ketiga ini disuguhi oleh pemandangan yang menakjubkan dan asap bau belerang yang menyelimuti setiap langkah kami membuat suasana menuju puncak ketiga terasa lebih menantang. Jalanan yang hanya setapak, di sebelah kiri dan kanan adalah tebing yang sangat curam dan sedikit membuat jantung berdebar ini akhirnya terbayar lunas oleh pemandangan yang sangat indah setelah sampai di puncak ketiga.

blog_16 blog_18

blog_19 blog_20

Akhirnya, kami menapakkan kaki di puncak Gunung Batur setinggi 1717 M dari permukaan laut. Sebuah perjalanan yang memberi arti begitu dalam bagi kehidupan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta ini lengkap dengan isinya harus kita jaga agar selalu lestari.

Perjalanan menuruni lereng yang curam dan hujan yang mulai membasahi tubuh tidak menjadi sebuah hambatan yang berarti lagi. Keindahan yang luar biasa menakjubkan di puncak gunung yang sangat disucikan ini telah memberikan suatu kesejukan dan mengabaikan segala lelah serta berharap alam yang indah ini tetap terjaga.

blog_21 blog_22

blog_25 blog_24

Ucapan terima kasih kepada Dekadi Tour (www.dekadibali.co.id) yang telah mensponsori transportasi dan driver selama acara pendakian ke Gunung Batur.

Dipublikasi di perjalanan wisata alam, trekking, wisata petualangan | Tag , , , , | 4 Komentar

Tirtayatra ke Pura Pasar Agung Toh Langkir – Tantangan Meraih Kesempurnaan Spiritualitas

Dalam rangka Karya Agung Panca Wali Krama Wana Kertih Purnama Kelima Pura Pasar Agung Giri Toh Langkir tanggal 9 – 21 November 2014, Keluarga besar PT. Dekadi Semesta Wisata Tour & Travel berkesempatan Tirtayatra pada hari Minggu tanggal 16 November 2014.

Perjalanan Tirtayatra di awali berangkat dari kantor PT Dekadi Semesta Wisata di Jalan Bypass Ngurah Rai Kuta pada pukul 8 pagi. Cuaca yang cukup cerah menambah semangat kami untuk melakukan perjalanan spritual untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa alam.

Sepanjang perjalanan dari Kuta sampai di desa Sebudi lalu lintas cukup lancar. Kami berangkat dengan 2 kendaraan dan astungkara kami bisa terus beriringan sampai mendekati tempat tujuan yaitu Pura Pasar Agung Giri Toh Langkir yang terletak di lereng Gunung Agung tepatnya kurang lebih 15 Km sebelah timur Pura Besakih.

Tirtayatra_01 Tirtayatra_02

Setelah melewati desa Sebudi, mobil di depan mulai jalan agak pelan dan tepat di perbatasan Desa Adat Sogra mobil sudah tidak bisa bergerak. Jalanan sudah mulai macet total. Hal ini tentunya tidak kami bayangkan sama sekali pada saat akan berangkat, karena perkiraan kami jalan akan lancar karena odalan di pura ini sudah dimulai 2 minggu sebelumnya.

Melihat mobil di depan tidak bergerak sama sekali dan beberapa penumpangnya mulai turun dari mobil, kami pun akhirnya juga turun dari mobil. Cuaca yang sejuk di pagi hari dan pemandangan yang indah di kiri kanan jalan menjadikan kami sempat mengabadaikan keindahan pemandangan tersebut dengan mengambil beberapa photo.

Tirtayatra_03 Tirtayatra_05

Setelah sempat berhenti selama kurang lebih 1 jam, kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sebagian besar orang yang ada di depan kami juga telah melakukan hal yang sama yaitu berjalan kaki menuju pura yang kata penduduk setempat masih kurang lebih 4 km. Setelah berjalan kurang lebih 500 meter, beberapa orang mengatakan bahwa mobil sudah bisa naik menuju parkiran pura. Dan kamipun bergegas mengambil mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan dan mulai perjalanan dengan menaiki mobil. Tetapi belum sampai 1 km, jalan macet lagi. Kemacetan ini disebabkan banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan dan mengambil badan jalan. Sedangkan dari depan banyak mobil yang mulai turun atau sudah selesai sembahyang. Kemacetan pun tidak bisa dihindari.

Tirtayatra_09 Tirtayatra_07

Kami akhirnya kembali harus memarkir mobil di pinggir jalan untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang dari arah atas untuk jalan. Dan sialnya, ketika kami parkir, ternyata tanahnya sangat gembur dan ban mobil masuk ke dalam tanah. Untunglah masyarakat setempat dan para pemedek bersedia membantu mengangkat mobil sehingga akhirnya kami bisa mencari tempat parkir yang lebih representatif.

Tirtayatra_08 Tirtayatra_19

Perjalanan Tirtayatra akhirnya kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Rombongan yang terdiri dari 2 mobil sudah tercerai berai. Kami berlima berjalan paling akhir. Diperjalanan kami banyak bertanya kepada penduduk setempat, “Masih berapa jauh pura Pasar Agung?” Beberapa dari mereka ada mengatakan 4 km, tetapi yang lainnya mengatakan 15 km, entah yang mana yang benar? Kamipun terus melangkahkan kaki menyusuri jalan menanjak menuju pura. Sepanjang perjalanan jalan dipenuhi oleh mobil yang parkir dan orang yang berjalan menyemut baik yang baru akan menuju pura ataupun mereka yang sudah balik dari arah pura. Sungguh pengalaman yang tidak bisa dilupakan.

Tirtayatra_21 Tirtayatra_24

Setelah berjalan kurang lebih selama 2 jam, akhirnya kami menemukan orang yang baik hati. Seorang pemedek yang mengendari mobil Fortuner menawarkan tumpangan kepada kami. Astungkara, rasa lelah dan cape akhirnya hilang berkat pertolongan pemedek yang mengendari Fortuner. Kami diantar sampai di tempat parkir pertama (ada 2 tempat parkir), dan kami turun tanpa lupa mengucapkan “suksme” atas kebaikannya.

Tirtayatra_22 Tirtayatra_17

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke pura, kami mencari teman kami yang sudah lebih dulu sampai di parkir pertama ini. Mereka rupanya tidak ada di tempat parkir pertama ini, dan kamipun akhirnya melanjutkan perjalanan dengan naik suttle bus yang disedikan oleh panitia karya. Perjalanan naik suttle bus ini sungguh merupakan pengalaman yang sangat seru. Bagaimana tidak, jalan menuju parkir kedua ini sangat menanjak, penuh dengan tikungan tajam dan di sebelah kiri dan kanan adalah jurang yang sangat dalam. Tetapi niat suci untuk melakukan persembahyangan menghilangkan rasa takut yang menyelimuti seluruh tubuh.

Tirtayatra_10 Tirtayatra_11

Akhirnya, kamipun sampai di tempat parkir kedua dimana tempat parkir ini terletak persis di depan pura. Di parkir inipun kami tidak menemukan teman yang sudah lebih dulu jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju pura untuk melakukan persembahyangan. Untuk meunju pura kami harus melewati ratusan buah anak tangga dengan kemiringan hampir 45 derajat. Maklum, pura ini memang terletak persis di lereng Gunung Agung, yaitu gunung yang tertinggi di Bali. Menaiki anak tangga satu persatu, kaki rasanya seperti mau lepas saja. Badan rasanya sudah tidak kuat lagi untuk menggerakkan kaki untuk melangkah. Namun sekali lagi, niat yang suci untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta, akhirnya kami pun sampai di tempat persembahyangan.

Tirtayatra_12 Tirtayatra_13

Usai melakukan persembahyangan, kami menyempatkan diri untuk mengisi perut sambil menunggu teman-teman yang lain. Dan ternyata rombongan kami terpecah menjadi 3 kelompok. Untungnya masing-masing kelompok membawa sesaji untuk sarana persembahyangan.

Tirtayatra_14 Tirtayatra_15

Perjalanan pulang sebenarnya tidak ada masalah lagi karena jalanan sudah agak sepi dan mobil sudah bisa masuk sampai ke parkir kedua yaitu parkir yang terletak persis di depan pura. Tetapi, karena mobil kami parkir sangat jauh di bawah, kami pun harus naik shuttle bus lagi menuju parkir pertama. Dan,,, saat naik shuttle bus, penulis memilih tempat duduk paling depan. Jalan yang menurun dengan kemiringan hampir 45 derajat dan sebelah kiri dan kanan ada jurang yang sangat dalam, membuat jantung rasanya seperti mau berhenti berdetak.

Tirtayatra_23 Tirtayatra_18

Dari perjalanan Tirtayatra ini kami akhirnya mendapatkan hikmah yang begitu dalam. Perjalanan Tirtayatra ini terasa begitu luar biasa karena adanya banyak tantangan untuk bisa mencapai pura tempat persembahyangan. Tidak selamanya rintangan itu membuat kita harus menyerah, dalam kasus ini justru dengan adanya banyak rintangan seperti  jalan macet, mobil tidak bisa bergerak dan harus berjalan kaki sekian kilo meter, semakin menguatkan niat kita untuk mencapai tujuan. Dan akhirnya justru dengan rintangan ini, perjalanan Tirtayatra ini menjadi begitu indah. Seandainya tidak ada kemacetan dan jalan lancar sampai ke tempat persembahyangan, maka cerita yang seru ini tentu tidak pernah ada.

Ucapan terima kasih kepada Dekadi Tour (www.dekadibali.co.id) yang telah memfasilitasi perjalanan Tirtayatra ini.

Dipublikasi di pura di bali, tirtayatra di bali, wisata spiritual | Tag , , | Meninggalkan komentar

Taman Sukasada Ujung – Istana Air nan Asri Peninggalan Kerajaan Karangasem

Istana Air Ujung, yang oleh masyarakat setempat disebut Taman Soekasada Ujung dibangun pada tahun 1919. Namun, peresmian kompleks istana air ini dialkukan pada tahun 1912. Istana air yang dikonstruksi oleh raja terakhir Karangasem, I Gusti Bagus Jelantik, yang memerintah di Karangasem antara 1909 dan 1945. Taman Ujung dibangun untuk menyambut dan melayani tamu-tamu penting dan raja-raja dari negara retangga, disamping sebagi tempat untuk raja dan keluarga kerajaan.

blog_tamanujung1 blog_tamanujung2 

Taman Sukasada Ujung terletak di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem-sekitar 85 km dari Bandar Udara Ngurah Rai atau 5 km dari Amlapura. Aktifitas pariwisata di daerah ini antara lain: warung makan, restoran kecil, dan areal parkir yang luas. Para wisatawan yang tertarik dengan produk kerajinan lokal dapat menemukannya di beberapa toko seini yang ada di sini.

blog_tamanujung3 blog_tamanujung4

Taman Soekasada Ujung telah diumumkan sebagai objek wisata budaya mengingat dianggap sebagai satu dari warisan budaya yang ada di Kabupaten Karangasem. Kompleks Taman Soekasada Ujung merupakan kombinasi dari arsitektur Bali dan Eropa. Terdapat tiga kolam besar dan luas di daerah ini. Di tengah kolam utama, terdapat bangunan yang menghubungkan sisi-sisi kolam dengan dua jembatan. Pada kompleks tertinggi, kita akan menemukan patung “warak” (badak). Di bawah wark adalah patung banteng. Dari tempat tinggi ini kita bisa melihat pemandangan laut yang mengagumkan dengan hutan yang menghijau, keindahan Gunung Agung yang dikombinasikan dnegan persawahan yang hijau. Kemegahan Taman Ujung telah dirusak akibat meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 dan diperburuk dengan gempa bumi pada tahun 1979. Namun,  penyelematan telah dilakukan untuk membawa kembali kejayaan kompleks istana air ini dengan merekonstruksi dan merevitalisasinya. Meskipun tidak seutuh dulu, namun kemegahannya terlihat sampai sekarang.

Dipublikasi di wisata peninggalan sejarah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Pulau Menjangan – Perpaduan antara Spiritualitas Daratan dengan Keindahan Taman Bawah Laut

Pulau Menjangan yang terletak di sebelah barat Pulau Bali merupakan salah satu tempat wisata diving yang sangat terkenal di seluruh dunia. Disamping keindahan taman bawah lautnya, di Pulau Menjangan juga terdapat pura sebagai tempat persembahyangan umat Hindu. Bagi umat Hindu yang melakukan Tirtayatra ke Pulau Menjangan, setidaknya akan melakukan persembahyangan sebanyak 8 kali karena memang di pulau ini terdapat banyak pura dimana antara satu pura dengan pura yang lainnya masih saling terkait.

pura_pulau_menjangan IMG_2120

Perjalanan menuju pulau Menjangan untuk Tirtayatra diawali dari kantor kami di Kuta. Persiapan perjalanan dimulai sejak jam 06:00 Wita dan setelah semua peserta berkumpul, tidak lupa untuk sarapan pagi karena perjalanan dari Kuta menuju Pulau Menjangan cukup jauh, yaitu sekitar 3 – 4 jam.

spanduk_tirtayatra

Sepanjang perjalanan lalu lintas cukup lancar dan sekitar jam 10:00 Wita kami tiba di Teluk Banyuwedang yaitu tempat penyeberangan menggunakan boat menuju Pulau Menjangan. Setelah sampai di Banyuwedang kami tidak secara otomatis bisa berangkat menuju Pulau Menjangan karena banyaknya umat Hindu yang akan Tirtayatra ke Pulau Menjangan sehingga kami harus antre dan menunggu kurang lebih 2 jam.

Sambil menunggu antrean boat, kami mengisi perut dengan perbekalan yang telah di siapkan dari Denpasar. Menikmati makan siang di pinggir pantai dengan pemandangan laut yang indah dan angin yang membelai wajah membuat nafsu makan semakin besar.

Makan Sebelum Nyeberang boat_penyeberangan

Penyeberangan dari Teluk Banyuwedang ke Pulau Menjangan memerlukan waktu kurang lebih 30 menit dengan boat tradisional, dimana setiap boat kapasitasnya kurang lebih 10 – 12 orang. Selama perjalanan dengan boat kita disuguhi pemandangan pulau Menjangan yang sangat indah. Tampak dari kejauhan pulau Menjangan seakan menyimpan pesona keindahan yang luar biasa.

Dalam Kapal Naik Boat

Naik Boat Tirtayatra Transportation

Ombak yang relatif tenang sangat membantu memperlancar perjalanan kami menuju Pulau Menjangan. Walau kadang ombak yang pecah di tengah laut kadang juga membuat boat sedikit bergoyang tetapi perjalanan spiritual ini terasa begitu nyaman. Setelah sampai di Pulau Menjangan, kami pun bergegas turun dari boat dan mulai menginjakkan kaki di Pulau Menjangan.

Memasuki Pura Pura Menjangan

Setelah “matur piuning” pada sebuah pura yang terletak pada “pintu masuk” pulau, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pulau yang belum dihuni secara tetap oleh manusia ini. Kami memulai persembahyangan dari satu pura ke pura berikutnya sebanyak 8 kali persembahyangan. Keheningan dan kekhusukan menjalankan ibadah persembahyangan di Pura Pulau Menjangan ini sangat terasa. Pura-pura yang terletak di pinggir pulau ini bangunanya tertata sangat rapi dan indah. Bangunan utama dan candi dibuat dengan arsitektur Bali dengan bahan batu alam yang dominan berwarna putih.

Pura Gajah Pura Menjangan

Pulau Menjangan dengan segala keindahannya adalah sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa. Taman bawah lautnya yang sangat indah telah mengantarkan turis dari berbagai belahan dunia untuk datang mengunjunginya. Perpaduan antara keidahan alam dan spritualitas Pulau Menjangan harus terus terjaga kelestariannya sehingga akan menjadi warisan yang tidak mudah dilupakan dan diabaikan.

pura_menjangan_01 pura_menjangan_02

Ucapan terima kasih kepada Dekadi Tour (www.dekadibali.co.id) yang telah memfasilitasi kami selama perjalanan Tirtayatra ke Pulau Menjangan.

Dipublikasi di diving di bali, tirtayatra di bali, wisata spiritual di bali | Tag , , , , | Meninggalkan komentar